Suamiku sayang.....
Ini semua tentang aku, semoga
kau mau membacanya.
Suamiku, aku adalah wanita yang tak pandai mengungkapkan isi hati. Suamiku, dari dulu, inilah aku. Aku menyukai puisi dan kata-kata indah dalam tulisan. Aku adalah pemimpi romantis yang selalu mengangankan seikat cinta dan kesetiaan
Suamiku, aku adalah wanita yang tak pandai mengungkapkan isi hati. Suamiku, dari dulu, inilah aku. Aku menyukai puisi dan kata-kata indah dalam tulisan. Aku adalah pemimpi romantis yang selalu mengangankan seikat cinta dan kesetiaan
Suamiku, aku memang tak pandai
memasak, tak pintar merajut dan tak bisa menahan amarah. Namun aku selalu
mencoba untuk belajar dan belajar.
Suamiku, aku pun seorang yang sangat mencintai kejujuran, menyayangi kesetiaan dan menghormati keterbatasan. Aku tak sempurna suamiku, tapi aku menjanjikan kesetiaan dan cinta yang tulus sejak kau menjadi imamku, dan aku akan menjaga janji itu segenap jiwaku.
Suamiku, aku pun seorang yang sangat mencintai kejujuran, menyayangi kesetiaan dan menghormati keterbatasan. Aku tak sempurna suamiku, tapi aku menjanjikan kesetiaan dan cinta yang tulus sejak kau menjadi imamku, dan aku akan menjaga janji itu segenap jiwaku.
Suamiku, aku pencemburu yang
gila, namun kututupi semua itu dengan sebuah peti kepercayaan. Aku pemarah yang
hebat namun kubalut semua itu dengan sebuah kemasan keceriaan.
Suamiku, saat peti itu kau
rusak dan kemasan itu kau sobek, aku dikelilingi keadaan kalut, aku rapuh, aku
sakit dan aku jatuh dalam keterpurukan, aku merasa gagal menjadi istri, aku
merasa sempurna menjadi cacat dalam percintaan ini.
Suamiku, maafkan aku atas
semua tanyaku, aku sering menanyakan semua kegiatan dan aktivitasmu, aku sering
bertanya sedang apa dan dimana dirimu, aku selalu mengganggumu dengan semua
pertanyaan-pertanyaanku. Bukan aku curiga suamiku, semua karena aku terlalu
mengkhawatirkan keadaanmu dan selalu merindukan pulangmu.
Suamiku, maafkan aku yang
selalu bergelayut manja saat kau pulang kerja atau sedang menonton sambil golekan,
aku ingin merasakan sentuhan kulitmu atau sekedar memeluk tubuh letihmu.
Sedangkan kau letih dan tak mau diganggu, aku baru menyadarinya suamiku, sejak
kau jarang menyentuhku kecuali kau memang ingin, dan sering membelakangiku saat
tidur di kala aku ingin hanya sekedar membelai wajahmu. Karena itu suamiku, aku
mengurangi manjaku. Aku tidak menggodamu bila bukan kau yang mulai. Aku sering
membiarkanmu menonton sendiri agar aku tak mengganggumu lagi. Namun aku akan
selalu ada jika kau butuh aku suamiku.
Suamiku, saat kau pergi untuk
sebuah keperluan dan harus pulang malam, maafkan aku bila aku marah, namun
taukah kau suamiku, aku bukan curiga atau mengekang. Aku marah karena kau
selalu telat mengabariku tentang dimana dirimu. Aku marah karena kadang kau berjanji
akan pergi denganku namun tak memberi kabar, atau aku marah karena kadang kau
akan bertemu orang namun tak jujur dengan siapa. Maafkan aku suamiku, aku diam
saat kau pulang, aku tak bicara seolah kau merasa aku sesuka hatiku, tapi
taukah kau suamiku, aku marah agar kau tak dengar amarahku yg membuatmu tambah
lelah. Aku diam agar marahku reda dan tak mengeluarkan kata-kata yg membuatmu
marah, benarkan sayang? Malah kau yang memarahiku suamiku...katamu aku sesuka
hatiku, katamu aku tak mau mengerti aktifitasmu. Aku sedih suamiku dengan semua
tuduhanmu. Aku memilih diam dan aku tau itu membuatmu kesal. Aku mungkin memang
salah tapi aku selalu mencoba mengerti. Dari nada bicaramu, aku tetaplah salah,
aku tetaplah istri yang tak pengertian dan sesuka hati hingga kau harus sabar
dan kuat menghadapiku.
Suamiku, maafkan lagi aku, aku
memang bodoh. Aku terlalu sedih hingga saat keberangkatanmu semalam keluar kota
aku memang tak bisa bicara dan hanya diam, aku ingin kau bebas dari semua
pertanyaan dan celotehanku. Tenangkanlah hatimu dulu, aku yakin kau butuh
melepas penat dari bayang-bayangku. Bila saatnya kau berkata “Bun, Ayah rindu
dengar suara bunda” baru aku akan menyapamu suamiku. Aku menyadari mungkin kau
butuh kesendirian tanpa gangguanku. Tolong suamiku, jangan berpikiran yang
tidak-tidak tentangku, ini semua kulakukan karena perasaanmu yang kau
ungkapkan. Kau tak harus bersabar padaku, tak harus kuat menghadapi tingkahku,
aku memang salah, benci saja aku dan akupun akan siap menjauh darimu.
Suamiku, aku mencintaimu lebih
dari yang kau tau
Suamiku, aku menyanjungmu melebihi hidupku
Suamiku, maaf atas ego,pertanyaan dan tingkahku
Suamiku, bahagiakan dirimu dan jangan memaksakan mengatakan akan selalu membahagiakanku, karena kau butuh bahagia juga.
Suamiku, aku menyanjungmu melebihi hidupku
Suamiku, maaf atas ego,pertanyaan dan tingkahku
Suamiku, bahagiakan dirimu dan jangan memaksakan mengatakan akan selalu membahagiakanku, karena kau butuh bahagia juga.
Bila kebahagiaan tak datang
saat kau tak mendengar suaraku maka akulah kebahagiannmu, namun bila
kebahagiaan datang saat ketiadaanku maka carilah kebahagiaan itu suamiku.
Aku ikhlas. Karena aku mencintaimu suamiku....